Sungguh pujian hanya untuk-Mu, pemilik segala kekayaan. Raja segala raja, dilangit dan di bumi. Demi tuhan, tiada sekutu bagi-Mu!
Ya Rahman, dengarkanlah rayuan nuraniku. Telah kusahut seruan-Mu. Kubisikkan kalimah rindu. Ingin kumiliki al-Hubb yang Abadi.
Teguh qiyamku menghadap istana agung. Dalam lautan manusia menadah do’a. Masihkah terbuka gerbang maghfirah. Sedang aku seorang ma’asi yang terlalu dikit sujudnya?
Biarkan…Biar basah bumi lahirnyaanbiya’. Oleh hujan munajat. Karena tak tertanggung lagi beban noda. Walau tiada arifku. Bisakah luntur ia dari hati. Suci sejernih air zam-zam?
Sadar aku tiada layak menghuni Al-Firdaus. Dalam kerendahan ku sembahkan ruku’. Lazim mendamba mercu kasih yang hakiki. Hingga keringat membawa pergi segala dosa.
Allahumma…Andai esok ditakdirkan bertemu-Mu di Mahsyar. Hanya ridho-Mu yang hamba harap.
Ya Rahman, dengarkanlah rayuan nuraniku. Telah kusahut seruan-Mu. Kubisikkan kalimah rindu. Ingin kumiliki al-Hubb yang Abadi.
Teguh qiyamku menghadap istana agung. Dalam lautan manusia menadah do’a. Masihkah terbuka gerbang maghfirah. Sedang aku seorang ma’asi yang terlalu dikit sujudnya?
Biarkan…Biar basah bumi lahirnyaanbiya’. Oleh hujan munajat. Karena tak tertanggung lagi beban noda. Walau tiada arifku. Bisakah luntur ia dari hati. Suci sejernih air zam-zam?
Sadar aku tiada layak menghuni Al-Firdaus. Dalam kerendahan ku sembahkan ruku’. Lazim mendamba mercu kasih yang hakiki. Hingga keringat membawa pergi segala dosa.
Allahumma…Andai esok ditakdirkan bertemu-Mu di Mahsyar. Hanya ridho-Mu yang hamba harap.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar