Kamis, 05 Februari 2009

MENAHAN MARAH

“ Siapa yang menahan marah, padahal ia bisa melepaskan kemarahannya, maka kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya.”(HR. Abu Dawud – At-Tirmidzi)
Tingkat kekuatan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda. Ada yang mampu menghadapi kesusahan dengan perasaan tenang. Namun ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja dianggapnya begitu besar. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah(keimanan) seseorang.
Pada dasarnya tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya berinteraksi dengan orang lain.
Orang yang memiliki keteguhan iman akan menghadapi orang lain dengan sikap pemaaf,tenang dan lapang dada.
Adakalanya diri merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina. Kemarahan begitu memuncak seolah jiwa hilang kesadaran. Diri merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan dengan menumpahkan darah. Na’udzubillah.
Rasulullah saw. Juga pernah marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas kemuliaan. Itupun dilakukan bukan karena masalah pribadi, melainkan karena kehormatan Agama Allah.
Rasulullah saw. Bersabda, “Memaki-maki orang muslim adalah fasik(dosa), dan memeranginya adalah kufur(keluar dari Islam).”(HR. Bukhari)
Sabdanya pula, “Bukanlah seorang mu’min yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya keji dan kotor.”(HR. Turmudzi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar