Senin, 23 Januari 2012

AKUPUNKTUR VS STROKE

BLOGNYA dr FRANK BERTHOLD
Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun sebagai praktisi akupunktur, saya mengalami banyak hal yang membuat saya berkesimpulan bahwa keberhasilan suatu terapi sangat tergantung dari penguasaan ilmu (profesi) kita, selain juga tergantung dari hal yang bersifat empirik.

Walaupun ilmu akupunktur telah dikenal lebih dari 4000 tahun, namun perkembangannya sangat lambat.
Hal ini adalah karena akupunktur senantiasa disikapi dan dipraktekkan secara empirik
Berbeda dengan kedokteran barat yang sarat riset ilmiah, dan tak jarang menghasilkan terobosan yang sekaligus menggugurkan standard lama yang bersifat empirik.

Dalam praktek sehari hari, saya menggabungkan akupunktur dengan logika anatomi dan faal secara bersamaan. Kasus yang banyak saya tangani adalah: kecantikan, pelangsingan, kelumpuhan, masalah kesuburan, gagal ginjal, DM, impotensi, dan penyakit dalam (non infeksi) lainnya.
Sesuai dengan topik, yang akan saya bahas kali ini adalah STROKE.

Baik stroke Hemorrhagik maupun Non Hemorrhagik (Iskemik), dampaknya adalah kelumpuhan.
Kerusakan neuron (sel syaraf) akibat kurang pasokan darah, bersifat permanen.
Kendatipun demikian, tidak semua neuron (dengan fungsi yang sama) mengalami kerusakan.
Masih banyak neuron cadangan yang dapat diaktifkan untuk berperan.

Para praktisi medis biasanya akan mengobati pasien dengan obat yang bersifat “vasodilator” dan “neurotropik”, dengan harapan akan terjadinya perbaikan vaskularisasi, perbaikan neuron yang rusak (?), dan mengaktifkan neuron cadangan.
Dalam hal ini, yang harus dicermati adalah, merupakan suatu fakta bahwa neuron cadangan belum masuk kedalam suatu network (namanya juga “cadangan”?).
Seyogyanya setiap axon dari neuron cadangan harus berhubungan dengan dendrit neuron berikutnya dan seterusnya, sehingga terbentuklah suatu network neuronal yang baru.

Sekarang timbul pertanyaan: “Adakah obat yang dapat langsung membentuk serta mengaktifkan
suatu network neuronal yang baru”?
“Dapatkah obat tersebut hanya terfokus pada tempat dimana terjadinya gangguan saja, sehingga tidak menimbulkan efek samping ditempat lain”?

Dengan akupunktur, masalah yang kompleks ini dapat diatasi dengan cara yang lebih sederhana dan rasional.
Yang harus dilakukan adalah, memberikan rangsangan listrik arus lemah dengan frekwensi tertentu lamgsung pada nervus utama yang mempersyarafi anggota tubuh yang lumpuh.
Hipotesanya adalah, arus balik listrik tadi akan mengakibatkan dendrit dan axon dari neuron neuron cadangan terimpuls untuk saling kontak.
Dengan demikian, terjalinlah suatu network neuronal yang baru.
Dengan terbentuknya network neuronal yang baru ini, barulah obat obatan tadi dapat bermakna.

Pada banyak kasus yang saya tangani, rangsangan langsung pada nervus menghasilkan gerakan gerakan langsung dari anggota tubuh yang tadinya lumpuh.
Karena pasien merasakan dan melihatnya sendiri, maka efek sugesti menjadi ikut berperan, sehingga pemulihan terjadi dengan lebih cepat.
Pasien yang telah lumpuh lebih dari 4 tahun pun masih tetap memberikan respons yang baik terhadap terapi dengan akupunktur.

Insya Allah tulisan ini dapat membangkitkan rasa percaya diri para penderita kelumpuhan beserta keluarganya.
Percayalah bahwa dunia pengobatan senantiasa menghasilkan terobosan terobosan baru.

http://frankberthold.wordpress.com/2008/01/20/akupunktur-vs-stroke/

Rabu, 21 Desember 2011

TEKNIK MENUSUK JARUM

Akupunktur sebenarnya tak cuma ilmu, tapi juga seni menusuk jarum guna mengembalikan keseimbangan tubuh. Yang menjadi landasannya, falsafah alamiah bahwa dalam setiap kehidupan senantiasa mengalir energi atau Ci (bioenergi). Sirkulasi Ci berjalan menurut irama tertentu melalui saluran hipotetis yang disebut meridian. Pada meridian ini terletak titik akupunktur. Gangguan aliran Ci pada meridian akan menimbulkan penyakit. Terapi akupunktur dapat memberikan rangsangan pada titik akupunktur untuk mengatur kembali aliran energi yang terganggu atau tidak seimbang.

Secara garis besar dasar ilmu akupunktur sama, tapi seninya bisa berbeda. Seni menusukkan jarum, mulai dari cara menusuk, kombinasi titik, sampai teknik stimulasi yang dipakai, tidak ada yang sama di antara para akupunkturis. Mungkin hal itu yang membuat akupunktur agak susah diterima di kedokteran barat.

Padahal, dengan terapi akupunktur, menurut beberapa kalangan kedokteran, biasanya tidak cuma masalah utama yang teratasi. Tidak jarang penyakit lain ikut tersembuhkan. Umpamanya, pasien penyakit jantung yang diobati dengan terapi akupunktur, secara tidak langsung juga akan memperbaiki kadar gula darah, SGPT-SGOT, dan fungsi hati jadi terkontrol. Begitu pula pasien sakit pinggang. Adakalanya setelah ditusuk di titik daerah pinggang, dan juga pada titik ginjal, beberapa hari kemudian selain sakit pinggangnya hilang, gairah seksualnya juga meningkat. Prinsipnya, akupunktur bekerja mengembalikan keseimbangan energi tubuh.

Petunjuk berhasilnya menusukkan jarum pada titik akupunktur jika tusukan jarum tepat mengenai sasaran yang disebut teqi dan tidak menyebabkan rasa sakit dan membengkoknya jarum. Untuk kepentingan ini, pasien yang baru pertama kali mendapat perawatan akupunktur dianjurkan untuk memperoleh penyuluhan tentang prosedur tusuk jarum, efek, dan sensasi tusukan yang akan dirasakannya. Sensasi yang akan dirasakan oleh pasien adalah baal, rasa berat, tersentak, dan terasa adanya aliran yang menjalar. Apabila pasien merasa kesakitan, seorang akupunkturis akan melakukan reposisi terhadap jarum tersebut. Ada kemungkinan jarum terjepit di antara otot. Hal ini dapat terjadi apabila pasien merasa tegang ketika jarum hendak ditusukkan. Setelah jarum tertanam, otot pasien mengendor (otot rileks kembali). Akan tetapi, otot terlanjur menjepit jarum yang salah arah (melengkung) sehingga akan terasa sakit dan pegal.

Berikut ini diuraikan tentang teknik menusukkan jarum akupunktur yang umum dilakukan.
1. Menggunakan alat Bantu yang sesuai dengan ukuran jarum akupunktur yang akan dipakai. Alat Bantu yang digunakan berupa tabung kecil dan alat pegas. Tabung kecil terbuat dari bahan plastic (seperti sedotan minuman), sedangkan alat berpegas dibuat khusus untuk keperluan ini. Alat berpegas ini disebut pelontar jarum (needle pusher).
2. Teknik penusukan jarum akupunktur dengan jari telanjang sebagai berikut.
a. Jari salah satu tangan memegang bagian pegangan jarum, arahkan mata jarum pada titik akupunktur terpilih, dan tusukan dengan teknik tertentu (tegak lurus, menyudut, sejajar, dan lain-lain). Teknik ini dapat dilakukan jika jarum akupunktur yang dipakai cukup tebal (ukuran no. 26, 28, dan 30). Pasien akan merasa sakit apabila teknik ini dilakukan oleh akupunkturis yang belum terampil.
b. Jari salah satu tangan memegang pegangan jarum dan tangan lainnya memegang batang jarum sebagai pengarah mata jarum dan penunjang jarum. Teknik seperti ini digunakan jika jarum akupunktur yang dipakai berukuran agak tipis (no. 30 dan 32).
c. Jari telunjuk dan ibu jari menjepit batang jarum (dekat mata jarum), kemudian jarum ditusukkan dengan cara “memegaskan” jari telunjuk dan jempol tersebut. Teknik ini dilakukan jika jarum yang dipakai berukuran kecil dan halus, misalnya jarum ukuran 32, 34, 36 X ¼-½ cun.
3. Jarum tanam atau jarum telinga ditusukkan menggunakan bantuan pinset tanpa gigi (nonchirrurgis pincet).
4. Menggunakan mata jarum 5-7, dengan cara memberikan pukulan-pukulan ringan dan luwes di atas titik-titik (daerah) terpilih.


Posisi pasien
Menusukkan jarum pada titik akupunktur berdasarkan pada azas berikut ini
o Efisiensi, artinya menggunakan jarum sedikit mungkin, artinya hanya memilih titik yang sangat penting.
o Rasa sakit akan dirasakan pasien secara minimal
o Titik yang dipilih mudah dilokalisasikan dan penusukan pun mudah dilakukan.
o Pasien dapat dengan santai dirawat dalam jangka waktu tertentu, misalnya 10-30 menit.

Untuk mencapai syarat-syarat tersebut, seorang akupunkturis dianjurkan untuk memberi nasehat kepada pasien untuk mengambil posisi rawat yang cocok. Contoh-contoh paosisi rawat yang baik seperti berikut ini.
o Posisi duduk
o Posisi duduk dan tangan bertumpu pada meja
o Posisi berbaring miring
o Posisi berbaring terlentang
o Posisi berbaring tengkurap

http://teknik-menusuk-jarum.blogspot.com/

Setiap pasien ditusuk jarum dengan frekuensi berbeda, dari sekali seminggu sampai tiga kali seminggu menurut tingkat penyakit yang diderita. Idealnya seminggu tiga kali untuk semua penyakit. Kalau seminggu sekali efeknya tidak begitu bagus. Tapi, kalau pasiennya tidak banyak waktu, bisa dilakukan seminggu dua kali. Bahkan kalau terpaksa, umpamanya untuk pasien luar kota atau pulau, terapi bisa dilakukan setiap hari guna mengurangi biaya transport. Satu seri terapi sebanyak 12 kali tindakan. Meski demikian kalau setelah tiga atau empat kali tindakan hasilnya sudah bagus, terapi tidak perlu dilanjutkan. Pengobatan dengan cara ini tidak harus sampai berseri-seri.

Jumlah jarum yang ditusukkan pada setiap kali terapi berbeda-beda tergantung pada kebutuhan dan jenis penyakitnya. Untuk sakit maag, cukup satu titik pada titik lambung. Sedangkan untuk diabetes perlu penusukan titik-titik diabetes di sepanjang tulang belakang. Banyaknya 6 – 8 titik. Namun, tak tertutup kemungkinan adanya titik tambahan di kaki dan tangan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pada prinsipnya dipilih titik utamanya dulu, baru kemudian ditambah titik pendukungnya. Bahkan, bagi yang merasakan nyeri di seluruh badan bisa ditusuk sampai 30 jarum.

Dalam kasus penurunan bobot badan, si pasien ditusuk pada lima titik di telinga, yakni titik lapar, titik metabolik, titik thyroid, titik lambung, dan titik hypothalamus. Dengan tusukan itu, pasien akan makan sesuai kebutuhan tubuhnya dan enzim ATP (enzim pembakar kalori) dipengaruhi. Nafsu makan berlebihan bisa ditekan sehingga keinginan ngemil berkurang dan rasa kenyang bisa dipertahankan. Efek diet seperti lesu dan lemas ditanggulangi dengan penusukan pada titik lambung dan tiroid. Meski sedang menjalani terapi, pasien dianjurkan tetap diet dan olahraga. Pada anak-anak disarankan menghindari makanan cepat saji dan cokelat.

Ping Puk Ping Sie
Pada teori akupunktur lama, titik akupunktur terdapat pada bagian-bagian tertentu berdasarkan peta akupunktur (titik utama). Tapi teori baru menyebutkan, “There is no acupoint. All of the body is acupoint“. Jadi, di bagian mana pun dari tubuh kalau ditusuk akan memberikan efek yang sama. Hanya saja bila dilakukan pada titik utama reaksinya lebih cepat dan lebih efektif.

Misalnya, dalam memberi terapi untuk orang yang sulit tidur, titik utamanya berada di bagian belakang telinga. Titik ini merupakan titik penenang paling kuat. Titik lain ada juga yang memberi efek menenangkan, tapi tidak sekuat titik penenang.

Ketika dilakukan penusukan di titik akupunktur, akan terjadi reaksi. Sekali tusuk, dua puluh dua reaksi dalam tubuh terjadi. Reaksi itu di antaranya rasa nyeri, bengkak, kemerahan, juga rasa hangat. Reaksi kemerahan di sekitar titik yang ditusuk menunjukkan adanya pelebaran pembuluh darah.

Proses yang terjadi pada tindakan tusuk jarum adalah merangsang sistem saraf untuk melepaskan zat-zat kimia dalam otot, urat saraf tulang belakang, dan otak. Zat-zat kimia itu di antaranya akan mengubah rasa sakit, memicu pengeluaran zat kimia dan hormon yang mempengaruhi sistem internal tubuh. Dengan membaiknya keseimbangan energi dan biokimia dalam tubuh, kesehatan fisik dan emosional pun menjadi baik.

Pada orang dewasa jarum yang ditusukkan didiamkan beberapa saat, sebelum kemudian dicabut lagi. Lamanya tusukan berbeda-beda menurut penyakitnya. Untuk penyakit maag, gula, menstruasi tidak teratur, lamanya penusukan 15 menit. Untuk nyeri, 20 – 30 menit. Sedangkan pada bayi, jarum diangkat segera setelah ditusukkan.

Pada kondisi normal, kulit yang ditusuk dengan jarum biasa akan merasakan sakit. Sebaliknya, kalau dengan jarum akupunktur, tidak merasakan sakit, malahan hangat.
Panjang jarum akupunktur beragam, mulai dari 1,3 cm hingga 10,2 cm. Demikian juga diameternya, 0,24 mm sampai 0,45 mm. Jarum paling panjang digunakan untuk menusuk bagian pantat. Ukuran lebih pendek untuk seluruh bagian tubuh. Jarum lebih pendek lagi untuk titik paru-paru. Yang paling pendek untuk tangan atau wajah. Jarum-jarum tersebut terbuat dari logam yang berbeda-beda. Kini, hampir semuanya terbuat dari baja tidak berkarat (stainless steel). Di Eropa Barat seperti di Jerman Barat dan Prancis masih dipakai jarum perak atau emas. Jarum perak dipakai untuk menenangkan atau sedasi, sedangkan jarum emas untuk tonifikasi.

Jarum akupunktur tidak menularkan penyakit. Yang bisa menularkan penyakit AIDS atau penyakit lain adalah jarum suntik. Bagian dalam jarum suntik berongga sehingga ketika jarum disuntikan dan kemudian ditarik lagi, ada darah atau serum yang terikut. Nah, kalau jarum ini dipakai ulang, orang lain berpeluang tertular. Sedangkan jarum akupunktur tidak berongga. Kalau ditusukkan kemudian dicabut lagi, tak ada yang terikut. Jarum akupunktur dijamin aman dengan jarum disposible (sekali pakai) atau sterilisasi yang akurat.

Jarum, laser, atau ultrasound
Dalam perkembangannya, orang Amerika dan Eropa menggantikan jarum akupunktur dengan sinar laser, populer dengan sebutan laserpunktur, dan gelombang ultrasound. Penggantian ini terjadi lantaran adanya ketakutan pada banyak orang akan rasa sakit akibat jarum dan penularan penyakit.

Kalau akupunktur yang menggunakan jarum sebagai alat utama, maka pada laserpunktur yang di”tusuk”kan adalah sinar laser yang dihasilkan diode gallium arsenide. Titik-titik penyinarannya tak jauh berbeda. Hanya saja biasanya dipilih titik paling efisien. Lamanya penyinarannya ada aturannya. Agar luka cepat menutup, misalnya, diperlukan waktu satu menit, dan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, butuh 30 detik.

Efek penyinaran energi laser pada titik akupunktur, antara lain mengurangi peradangan, menghilangkan rasa sakit, mempertinggi metabolisme, memperbaiki pembaharuan jaringan dan kekebalan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, merangsang metabolisme sel, dan sebagainya. Laserpunktur juga dilaporkan berhasil mengobati berbagai gejala penyakit, seperti sakit saraf, radang sendi, asma, radang selaput lendir hidung, radang tekak, dan lain-lain. Pada anak-anak, hasilnya bagus sekali.

Soal efektivitas, antara laserpunktur dan akupunktur memang berbeda. Akupunktur tetap lebih efektif dibandingkan dengan laserpunktur. Kalau dinilai dengan angka, perbandingannya kira-kira 100 : 75. Tusuk jarum memberikan efek paling bagus.

Penerapan laserpunktur secara benar tidak menimbulkan efek samping. Penyinarannya paling lama empat menit. Kalau kelamaan paling cuma gosong. Dengan ultrasound kalau kelamaan diduga sel-sel bisa memuai. Tetapi berdasarkan pengalaman, efek samping yang begitu relatif sedikit sekali.

http://keluargacemara.com/featured/akupunktur-menusuk-kulit-menyembuhkan-penyakit.html

Rabu, 07 Desember 2011

MERIDIAN

Meridian adalah jalur lalu lintas energi dalam tubuh. Dan sebagaimana lalu lintas, pada meridian ada jalur/jalan, ada hambatan, ada persimpangan, ada titik awal, ada titik akhir dan sebagainya. Jika jalan energi pada meridian lancar, maka akan tercipta keharmonisan dalam tubuh, dan tubuh kita mampu melawan penyakit, sebaliknya jika terjadi hambatan pada meridian maka akan muncul gangguan kesehatan.

Yang membedakan meridian dengan jaringan lain dalam tubuh adalah jaringan darah dan syaraf dapat terlihat oleh mata, sedangkan jaringan meridian tidak terlihat walaupun nyata. Dalam ilmu kedokteran modern, rahasia teori jalur energi meridian ini masih belum terungkap karena saat ini belum ada alat yang bisa mendeteksinya, akan tetapi teori ini sudah dibuktikan manfaatnya selama ribuan tahun.

Fenomena teori meridian mungkin sama dengan keberadaan nyawa pada mahluk hidup. Keberadaan nyawa sangat penting bagi kehidupan tapi belum ada yang bisa mengungkap rahasia keberadaannya. Jadi Keberadaan meridian belum dapat dibuktikan secara fisik menurut ilmu kedokteran, walaupun riset telah menunjukkan bagaimana transmisi dari informasi dari chi dapat berhubungan di bagian-bagian internal manusia.

Fungsi meridian antara lain:
•Penghubung bagian tubuh sebelah atas dan tubuh sebelah bawah
•Penghubung bagian tubuh sebelah kanan dan tubuh sebelah kiri
•Penghubung organ-organ dalam dengan permukaan tubuh
•Penghubung organ-organ dalam dan alat gerak
•Penghubung organ-organ dalam dengan organ-organ dalam lainnya
•Penghubung organ dalam dengan jaringan penunjang tubuh
•Penghubung jaringan penunjang tubuh dengan jaringan penunjang tubuh lainnya.

Hubungan ini terbentuk menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang beraksi bersamaan terhadap rangsangan yang berperan dalam pertahanan tubuh. Akan tetapi, jika ada penyakit masuk ke dalam meridian, maka meridian bisa menjadi jalur penyakit untuk menyebar dalam tubuh, karena itu kita harus merangsang titik-titik pada meridian untuk mengusir penyakit.

Meridian terletak di dalam tubuh, letaknya bervariatif tergantung jalurnya. Jalur meridian ada yang melewati sela-sela tulang, ada yang berada di sela-sela otot, dan karena wujudnya yang tidak nyata ada juga yang menembus atau menyelimuti organ. Sebagian organ ada yang muncul dekat dengan permukaan kulit.

acupuncture

According to the National Institutes of Health there are currently more than 10 million adults in the U.S. that have used acupuncture at some time in the past, or are using it currently.

Acupuncture is a medical technique usually involving the shallow insertion of needles through the skin at particular points on the body (called acupoints). There are many different kinds of acupuncture, involving different kinds of needles, different insertion points, different techniques, and the use of various accompaniments such as electricity or moxibustion. Some acupuncturists use low energy laser beams.

There are other variations as well, such as microacupunture, which uses forty-eight non-traditional acupoints located on the hands and feet, and auriculotherapy or ear acupuncture, which postulates that the ear is a map of the bodily organs. Similar notions about a part of the body being an organ map are held by those who practice iridology (the iris is the map of the body) and reflexology (the foot is the map of the body). Staplepuncture, a variation of auriculotherapy, puts staples at key points on the ear hoping to do such things as help people stop smoking. Acupressure applies pressure, rather than needles, to acupoints.

Acupuncture is thought to have originated in China, but its origins and early use are controversial (Basser 1999). Today, acupuncture, in one form or another, is practiced in dozens of countries by thousands of acupuncturists on millions of people and their animals.

People go to acupuncturists for treatment of AIDS, allergies, arthritis, asthma, Bell's palsy, bladder and kidney problems, breast enlargement, bronchitis, colds, constipation, cosmetics, depression, diarrhea, dizziness, drug addiction (cocaine, heroin), epilepsy, fatigue, fertility problems, fibromyalgia, flu, gynecologic disorders, headaches, high blood pressure, hot flushes, irritable bowel syndrome, migraines, nausea, nocturnal enuresis (bedwetting), pain, paralysis, post traumatic stress disorder, PMS, sciatica, sexual dysfunction, sinus problems, smoking, stress, stroke, tendonitis, vision problems, etc

The belief in acupuncture's effectiveness is based on experience and scientific experiments. Millions of people have experienced the beneficial effects of acupuncture and thousands of scientific studies have concluded that acupuncture is effective for such things as the relief of pain, increasing fertility, treating rheumatoid arthritis, and relieving nausea after chemotherapy. Skeptics challenge these studies, but with so much evidence piled up in favor of the effectiveness of acupuncture, one wonders why there are still many people who are skeptical of the practice.

Senin, 19 April 2010

KENDALI TERHADAP HATI

Di surat Al-Anfal ayat 24, Allah swt berfirman, "…ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan." Maksudnya adalah Allah lah yang menguasai hati seorang hamba.

Dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Abu Syaibah, Aisya rha., berkata, “Nabi SAW sering berdoa dengan mengatakan, ‘Wahai Tuhan yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku untuk selalu taat kepada-Mu.’ Aku pernah bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa Anda sering berdoa dengan menggunakan doa seperti itu? Apakah Anda sedang merasa ketakutan?’ Beliau menjawab, ‘Tidak ada yang membuatku merasa aman, hai Aisyah. Hati seluruh hamba ini berada di antara dua jari Allah Yang Maha Memaksa. Jika mau membalikkan hati seorang hamba-Nya, Allah tinggal membalikkannya begitu saja.’”

Dari ayat dan hadits di atas, jelas sekali bahwa hati seorang hamba ada pada kekuasaan Allah swt.

Ketika kita diperintahkan untuk menjaga hati, maka kita diperintahkan untuk tidak mengotori hati. Kotornya hati adalah karena maksiat. Maksiat yang kita lakukan seperti noda yang menutupi hati kita. "Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (Al-Muthofifin : 83)

Hati yang tertutup noda maksiat ini akan menjadi hati yang sakit, bahkan berpeluang menjadi hati yang mati. Dengan istighfar dan taubat lah noda yang menutupi hati bisa dibersihkan.

Lalu yang termasuk maksiat adalah melihat hal-hal yang diharamkan Allah untuk dilihat. "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya”" (QS. An-Nuur : 30-31).

*****
Manusia tidak punya kontrol langsung terhadap hatinya. Allah lah yang punya kontrol langsung. Allah bisa membalikkan hati seorang hamba, dari semangat untuk beribadah kemudian hatinya tidak dalam keadaan mood untuk beribadah, atau istilahnya futur. Itulah mengapa Rasulullah saw berdoa agar Allah menetapkan hatinya pada ketaatan, jangan sampai Allah membalikkan hatinya pada ketidak-taatan.

Yang diharapkan adalah ketika berada pada masa jenuhnya, seseorang tetap berada dalam sunnah Rasulullah saw. “Setiap amalan ada masa semangatnya, dan masa semangat ada masa jenuhnya. Barangsiapa kejenuhannya kembali kepada sunnahku berarti dia telah berbahagia, dan barangsiapa yang kejenuhannya tidak membawa dia kepada yang demikian maka dia telah binasa.” (HR. Ahmad, lihat Shahih At-Targhib)

Kendali manusia terhadap hatinya diperantarai oleh perbuatan yang ia lakukan. Manusia tidak bisa secara langsung membersihkan hatinya, melainkan ia terlebih dahulu harus melakukan taubat dan ketaatan-ketaatan yang menyempurnakan taubatnya.

Terbolak-baliknya hati manusia ada korelasinya dengan amal yang ia upayakan. Keimanan itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena ketaatan, berkurang karena kemaksiatan. Iman yang turun/berkurang berimplikasi pada keadaan jenuh seseorang. Kejenuhan itu bisa berawal dari kemaksiatan yang ia lakukan. Dan keadaan semangat seseorang terjadi mana kala imannya sedang naik atau bertambah. Hal itu diletupkan oleh ketaatan yang ia perbuat.

Oleh karena itu, agar Allah senantiasa memposisikan hatinya pada semangat beribadah, seorang hamba harus berupaya menjaga ketaatannya dan menjaga inderanya untuk tidak bermaksiat kepada Allah sehingga hatinya bersih. Kalau tidak, Allah akan membalikkan hatinya karena hatinya dikerumuni oleh noda-noda maksiat.

*****
Kedengkian, riya’, dan dendam, dan penyakit hati lain yang bersarang pada hati kita sebenarnya melewati indera kita terlebih dahulu. Yaitu berawal dari lintasan pikiran. Allah masih mengampuni lintasan pikiran ini. Tapi segeralah berlindung kepada Allah dari penyakit hati dan bertaubatlah dari penyakit hati yang telah terlanjur bersarang.

Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: Allah mengampuni dari umatku terhadap apa yang masih terlintas di dalam hati mereka (Hadits Shahih, Irwaa`al Ghalil VII/139 nomor 2026)

Biasanya godaan ingin dipuji muncul setelah beramal sholeh. Kalau kita cepat tersadar, maka pikiran itu tidak akan mengendap di hati. Begitu juga dengan kebencian atau iri hati terhadap orang lain, bersegeralah berlindung kepada Allah saat terlintas pikiran tersebut pertama kali. Kalau terlambat, penyakit itu akan bersarang. Dan penyakit-penyakit itu tidak akan bersarang kecuali kalau pada lingkungan yang memungkinkannya untuk hidup, yaitu hati yang kumuh dan berpenyakit karena kemaksiatan kepada Allah swt. Dan lintasan pikiran itu sendiri tidak akan mudah tercetus kecuali dari pikiran yang sakit, yang diakibatkan oleh hati yang sakit.

Kalau pikiran itu terlalu sering melintas, bermuhasabahlah. Khawatirnya hati kita sudah menjadi sarang penyakit. Kalau benar, maka segeralah bertaubat.

Jagalah indera kita dari bermaksiat kepada Allah, agar hati kita terjaga kebersihannya.