Rabu, 21 Desember 2011

TEKNIK MENUSUK JARUM

Akupunktur sebenarnya tak cuma ilmu, tapi juga seni menusuk jarum guna mengembalikan keseimbangan tubuh. Yang menjadi landasannya, falsafah alamiah bahwa dalam setiap kehidupan senantiasa mengalir energi atau Ci (bioenergi). Sirkulasi Ci berjalan menurut irama tertentu melalui saluran hipotetis yang disebut meridian. Pada meridian ini terletak titik akupunktur. Gangguan aliran Ci pada meridian akan menimbulkan penyakit. Terapi akupunktur dapat memberikan rangsangan pada titik akupunktur untuk mengatur kembali aliran energi yang terganggu atau tidak seimbang.

Secara garis besar dasar ilmu akupunktur sama, tapi seninya bisa berbeda. Seni menusukkan jarum, mulai dari cara menusuk, kombinasi titik, sampai teknik stimulasi yang dipakai, tidak ada yang sama di antara para akupunkturis. Mungkin hal itu yang membuat akupunktur agak susah diterima di kedokteran barat.

Padahal, dengan terapi akupunktur, menurut beberapa kalangan kedokteran, biasanya tidak cuma masalah utama yang teratasi. Tidak jarang penyakit lain ikut tersembuhkan. Umpamanya, pasien penyakit jantung yang diobati dengan terapi akupunktur, secara tidak langsung juga akan memperbaiki kadar gula darah, SGPT-SGOT, dan fungsi hati jadi terkontrol. Begitu pula pasien sakit pinggang. Adakalanya setelah ditusuk di titik daerah pinggang, dan juga pada titik ginjal, beberapa hari kemudian selain sakit pinggangnya hilang, gairah seksualnya juga meningkat. Prinsipnya, akupunktur bekerja mengembalikan keseimbangan energi tubuh.

Petunjuk berhasilnya menusukkan jarum pada titik akupunktur jika tusukan jarum tepat mengenai sasaran yang disebut teqi dan tidak menyebabkan rasa sakit dan membengkoknya jarum. Untuk kepentingan ini, pasien yang baru pertama kali mendapat perawatan akupunktur dianjurkan untuk memperoleh penyuluhan tentang prosedur tusuk jarum, efek, dan sensasi tusukan yang akan dirasakannya. Sensasi yang akan dirasakan oleh pasien adalah baal, rasa berat, tersentak, dan terasa adanya aliran yang menjalar. Apabila pasien merasa kesakitan, seorang akupunkturis akan melakukan reposisi terhadap jarum tersebut. Ada kemungkinan jarum terjepit di antara otot. Hal ini dapat terjadi apabila pasien merasa tegang ketika jarum hendak ditusukkan. Setelah jarum tertanam, otot pasien mengendor (otot rileks kembali). Akan tetapi, otot terlanjur menjepit jarum yang salah arah (melengkung) sehingga akan terasa sakit dan pegal.

Berikut ini diuraikan tentang teknik menusukkan jarum akupunktur yang umum dilakukan.
1. Menggunakan alat Bantu yang sesuai dengan ukuran jarum akupunktur yang akan dipakai. Alat Bantu yang digunakan berupa tabung kecil dan alat pegas. Tabung kecil terbuat dari bahan plastic (seperti sedotan minuman), sedangkan alat berpegas dibuat khusus untuk keperluan ini. Alat berpegas ini disebut pelontar jarum (needle pusher).
2. Teknik penusukan jarum akupunktur dengan jari telanjang sebagai berikut.
a. Jari salah satu tangan memegang bagian pegangan jarum, arahkan mata jarum pada titik akupunktur terpilih, dan tusukan dengan teknik tertentu (tegak lurus, menyudut, sejajar, dan lain-lain). Teknik ini dapat dilakukan jika jarum akupunktur yang dipakai cukup tebal (ukuran no. 26, 28, dan 30). Pasien akan merasa sakit apabila teknik ini dilakukan oleh akupunkturis yang belum terampil.
b. Jari salah satu tangan memegang pegangan jarum dan tangan lainnya memegang batang jarum sebagai pengarah mata jarum dan penunjang jarum. Teknik seperti ini digunakan jika jarum akupunktur yang dipakai berukuran agak tipis (no. 30 dan 32).
c. Jari telunjuk dan ibu jari menjepit batang jarum (dekat mata jarum), kemudian jarum ditusukkan dengan cara “memegaskan” jari telunjuk dan jempol tersebut. Teknik ini dilakukan jika jarum yang dipakai berukuran kecil dan halus, misalnya jarum ukuran 32, 34, 36 X ¼-½ cun.
3. Jarum tanam atau jarum telinga ditusukkan menggunakan bantuan pinset tanpa gigi (nonchirrurgis pincet).
4. Menggunakan mata jarum 5-7, dengan cara memberikan pukulan-pukulan ringan dan luwes di atas titik-titik (daerah) terpilih.


Posisi pasien
Menusukkan jarum pada titik akupunktur berdasarkan pada azas berikut ini
o Efisiensi, artinya menggunakan jarum sedikit mungkin, artinya hanya memilih titik yang sangat penting.
o Rasa sakit akan dirasakan pasien secara minimal
o Titik yang dipilih mudah dilokalisasikan dan penusukan pun mudah dilakukan.
o Pasien dapat dengan santai dirawat dalam jangka waktu tertentu, misalnya 10-30 menit.

Untuk mencapai syarat-syarat tersebut, seorang akupunkturis dianjurkan untuk memberi nasehat kepada pasien untuk mengambil posisi rawat yang cocok. Contoh-contoh paosisi rawat yang baik seperti berikut ini.
o Posisi duduk
o Posisi duduk dan tangan bertumpu pada meja
o Posisi berbaring miring
o Posisi berbaring terlentang
o Posisi berbaring tengkurap

http://teknik-menusuk-jarum.blogspot.com/

Setiap pasien ditusuk jarum dengan frekuensi berbeda, dari sekali seminggu sampai tiga kali seminggu menurut tingkat penyakit yang diderita. Idealnya seminggu tiga kali untuk semua penyakit. Kalau seminggu sekali efeknya tidak begitu bagus. Tapi, kalau pasiennya tidak banyak waktu, bisa dilakukan seminggu dua kali. Bahkan kalau terpaksa, umpamanya untuk pasien luar kota atau pulau, terapi bisa dilakukan setiap hari guna mengurangi biaya transport. Satu seri terapi sebanyak 12 kali tindakan. Meski demikian kalau setelah tiga atau empat kali tindakan hasilnya sudah bagus, terapi tidak perlu dilanjutkan. Pengobatan dengan cara ini tidak harus sampai berseri-seri.

Jumlah jarum yang ditusukkan pada setiap kali terapi berbeda-beda tergantung pada kebutuhan dan jenis penyakitnya. Untuk sakit maag, cukup satu titik pada titik lambung. Sedangkan untuk diabetes perlu penusukan titik-titik diabetes di sepanjang tulang belakang. Banyaknya 6 – 8 titik. Namun, tak tertutup kemungkinan adanya titik tambahan di kaki dan tangan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pada prinsipnya dipilih titik utamanya dulu, baru kemudian ditambah titik pendukungnya. Bahkan, bagi yang merasakan nyeri di seluruh badan bisa ditusuk sampai 30 jarum.

Dalam kasus penurunan bobot badan, si pasien ditusuk pada lima titik di telinga, yakni titik lapar, titik metabolik, titik thyroid, titik lambung, dan titik hypothalamus. Dengan tusukan itu, pasien akan makan sesuai kebutuhan tubuhnya dan enzim ATP (enzim pembakar kalori) dipengaruhi. Nafsu makan berlebihan bisa ditekan sehingga keinginan ngemil berkurang dan rasa kenyang bisa dipertahankan. Efek diet seperti lesu dan lemas ditanggulangi dengan penusukan pada titik lambung dan tiroid. Meski sedang menjalani terapi, pasien dianjurkan tetap diet dan olahraga. Pada anak-anak disarankan menghindari makanan cepat saji dan cokelat.

Ping Puk Ping Sie
Pada teori akupunktur lama, titik akupunktur terdapat pada bagian-bagian tertentu berdasarkan peta akupunktur (titik utama). Tapi teori baru menyebutkan, “There is no acupoint. All of the body is acupoint“. Jadi, di bagian mana pun dari tubuh kalau ditusuk akan memberikan efek yang sama. Hanya saja bila dilakukan pada titik utama reaksinya lebih cepat dan lebih efektif.

Misalnya, dalam memberi terapi untuk orang yang sulit tidur, titik utamanya berada di bagian belakang telinga. Titik ini merupakan titik penenang paling kuat. Titik lain ada juga yang memberi efek menenangkan, tapi tidak sekuat titik penenang.

Ketika dilakukan penusukan di titik akupunktur, akan terjadi reaksi. Sekali tusuk, dua puluh dua reaksi dalam tubuh terjadi. Reaksi itu di antaranya rasa nyeri, bengkak, kemerahan, juga rasa hangat. Reaksi kemerahan di sekitar titik yang ditusuk menunjukkan adanya pelebaran pembuluh darah.

Proses yang terjadi pada tindakan tusuk jarum adalah merangsang sistem saraf untuk melepaskan zat-zat kimia dalam otot, urat saraf tulang belakang, dan otak. Zat-zat kimia itu di antaranya akan mengubah rasa sakit, memicu pengeluaran zat kimia dan hormon yang mempengaruhi sistem internal tubuh. Dengan membaiknya keseimbangan energi dan biokimia dalam tubuh, kesehatan fisik dan emosional pun menjadi baik.

Pada orang dewasa jarum yang ditusukkan didiamkan beberapa saat, sebelum kemudian dicabut lagi. Lamanya tusukan berbeda-beda menurut penyakitnya. Untuk penyakit maag, gula, menstruasi tidak teratur, lamanya penusukan 15 menit. Untuk nyeri, 20 – 30 menit. Sedangkan pada bayi, jarum diangkat segera setelah ditusukkan.

Pada kondisi normal, kulit yang ditusuk dengan jarum biasa akan merasakan sakit. Sebaliknya, kalau dengan jarum akupunktur, tidak merasakan sakit, malahan hangat.
Panjang jarum akupunktur beragam, mulai dari 1,3 cm hingga 10,2 cm. Demikian juga diameternya, 0,24 mm sampai 0,45 mm. Jarum paling panjang digunakan untuk menusuk bagian pantat. Ukuran lebih pendek untuk seluruh bagian tubuh. Jarum lebih pendek lagi untuk titik paru-paru. Yang paling pendek untuk tangan atau wajah. Jarum-jarum tersebut terbuat dari logam yang berbeda-beda. Kini, hampir semuanya terbuat dari baja tidak berkarat (stainless steel). Di Eropa Barat seperti di Jerman Barat dan Prancis masih dipakai jarum perak atau emas. Jarum perak dipakai untuk menenangkan atau sedasi, sedangkan jarum emas untuk tonifikasi.

Jarum akupunktur tidak menularkan penyakit. Yang bisa menularkan penyakit AIDS atau penyakit lain adalah jarum suntik. Bagian dalam jarum suntik berongga sehingga ketika jarum disuntikan dan kemudian ditarik lagi, ada darah atau serum yang terikut. Nah, kalau jarum ini dipakai ulang, orang lain berpeluang tertular. Sedangkan jarum akupunktur tidak berongga. Kalau ditusukkan kemudian dicabut lagi, tak ada yang terikut. Jarum akupunktur dijamin aman dengan jarum disposible (sekali pakai) atau sterilisasi yang akurat.

Jarum, laser, atau ultrasound
Dalam perkembangannya, orang Amerika dan Eropa menggantikan jarum akupunktur dengan sinar laser, populer dengan sebutan laserpunktur, dan gelombang ultrasound. Penggantian ini terjadi lantaran adanya ketakutan pada banyak orang akan rasa sakit akibat jarum dan penularan penyakit.

Kalau akupunktur yang menggunakan jarum sebagai alat utama, maka pada laserpunktur yang di”tusuk”kan adalah sinar laser yang dihasilkan diode gallium arsenide. Titik-titik penyinarannya tak jauh berbeda. Hanya saja biasanya dipilih titik paling efisien. Lamanya penyinarannya ada aturannya. Agar luka cepat menutup, misalnya, diperlukan waktu satu menit, dan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, butuh 30 detik.

Efek penyinaran energi laser pada titik akupunktur, antara lain mengurangi peradangan, menghilangkan rasa sakit, mempertinggi metabolisme, memperbaiki pembaharuan jaringan dan kekebalan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, merangsang metabolisme sel, dan sebagainya. Laserpunktur juga dilaporkan berhasil mengobati berbagai gejala penyakit, seperti sakit saraf, radang sendi, asma, radang selaput lendir hidung, radang tekak, dan lain-lain. Pada anak-anak, hasilnya bagus sekali.

Soal efektivitas, antara laserpunktur dan akupunktur memang berbeda. Akupunktur tetap lebih efektif dibandingkan dengan laserpunktur. Kalau dinilai dengan angka, perbandingannya kira-kira 100 : 75. Tusuk jarum memberikan efek paling bagus.

Penerapan laserpunktur secara benar tidak menimbulkan efek samping. Penyinarannya paling lama empat menit. Kalau kelamaan paling cuma gosong. Dengan ultrasound kalau kelamaan diduga sel-sel bisa memuai. Tetapi berdasarkan pengalaman, efek samping yang begitu relatif sedikit sekali.

http://keluargacemara.com/featured/akupunktur-menusuk-kulit-menyembuhkan-penyakit.html

Rabu, 07 Desember 2011

MERIDIAN

Meridian adalah jalur lalu lintas energi dalam tubuh. Dan sebagaimana lalu lintas, pada meridian ada jalur/jalan, ada hambatan, ada persimpangan, ada titik awal, ada titik akhir dan sebagainya. Jika jalan energi pada meridian lancar, maka akan tercipta keharmonisan dalam tubuh, dan tubuh kita mampu melawan penyakit, sebaliknya jika terjadi hambatan pada meridian maka akan muncul gangguan kesehatan.

Yang membedakan meridian dengan jaringan lain dalam tubuh adalah jaringan darah dan syaraf dapat terlihat oleh mata, sedangkan jaringan meridian tidak terlihat walaupun nyata. Dalam ilmu kedokteran modern, rahasia teori jalur energi meridian ini masih belum terungkap karena saat ini belum ada alat yang bisa mendeteksinya, akan tetapi teori ini sudah dibuktikan manfaatnya selama ribuan tahun.

Fenomena teori meridian mungkin sama dengan keberadaan nyawa pada mahluk hidup. Keberadaan nyawa sangat penting bagi kehidupan tapi belum ada yang bisa mengungkap rahasia keberadaannya. Jadi Keberadaan meridian belum dapat dibuktikan secara fisik menurut ilmu kedokteran, walaupun riset telah menunjukkan bagaimana transmisi dari informasi dari chi dapat berhubungan di bagian-bagian internal manusia.

Fungsi meridian antara lain:
•Penghubung bagian tubuh sebelah atas dan tubuh sebelah bawah
•Penghubung bagian tubuh sebelah kanan dan tubuh sebelah kiri
•Penghubung organ-organ dalam dengan permukaan tubuh
•Penghubung organ-organ dalam dan alat gerak
•Penghubung organ-organ dalam dengan organ-organ dalam lainnya
•Penghubung organ dalam dengan jaringan penunjang tubuh
•Penghubung jaringan penunjang tubuh dengan jaringan penunjang tubuh lainnya.

Hubungan ini terbentuk menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang beraksi bersamaan terhadap rangsangan yang berperan dalam pertahanan tubuh. Akan tetapi, jika ada penyakit masuk ke dalam meridian, maka meridian bisa menjadi jalur penyakit untuk menyebar dalam tubuh, karena itu kita harus merangsang titik-titik pada meridian untuk mengusir penyakit.

Meridian terletak di dalam tubuh, letaknya bervariatif tergantung jalurnya. Jalur meridian ada yang melewati sela-sela tulang, ada yang berada di sela-sela otot, dan karena wujudnya yang tidak nyata ada juga yang menembus atau menyelimuti organ. Sebagian organ ada yang muncul dekat dengan permukaan kulit.

acupuncture

According to the National Institutes of Health there are currently more than 10 million adults in the U.S. that have used acupuncture at some time in the past, or are using it currently.

Acupuncture is a medical technique usually involving the shallow insertion of needles through the skin at particular points on the body (called acupoints). There are many different kinds of acupuncture, involving different kinds of needles, different insertion points, different techniques, and the use of various accompaniments such as electricity or moxibustion. Some acupuncturists use low energy laser beams.

There are other variations as well, such as microacupunture, which uses forty-eight non-traditional acupoints located on the hands and feet, and auriculotherapy or ear acupuncture, which postulates that the ear is a map of the bodily organs. Similar notions about a part of the body being an organ map are held by those who practice iridology (the iris is the map of the body) and reflexology (the foot is the map of the body). Staplepuncture, a variation of auriculotherapy, puts staples at key points on the ear hoping to do such things as help people stop smoking. Acupressure applies pressure, rather than needles, to acupoints.

Acupuncture is thought to have originated in China, but its origins and early use are controversial (Basser 1999). Today, acupuncture, in one form or another, is practiced in dozens of countries by thousands of acupuncturists on millions of people and their animals.

People go to acupuncturists for treatment of AIDS, allergies, arthritis, asthma, Bell's palsy, bladder and kidney problems, breast enlargement, bronchitis, colds, constipation, cosmetics, depression, diarrhea, dizziness, drug addiction (cocaine, heroin), epilepsy, fatigue, fertility problems, fibromyalgia, flu, gynecologic disorders, headaches, high blood pressure, hot flushes, irritable bowel syndrome, migraines, nausea, nocturnal enuresis (bedwetting), pain, paralysis, post traumatic stress disorder, PMS, sciatica, sexual dysfunction, sinus problems, smoking, stress, stroke, tendonitis, vision problems, etc

The belief in acupuncture's effectiveness is based on experience and scientific experiments. Millions of people have experienced the beneficial effects of acupuncture and thousands of scientific studies have concluded that acupuncture is effective for such things as the relief of pain, increasing fertility, treating rheumatoid arthritis, and relieving nausea after chemotherapy. Skeptics challenge these studies, but with so much evidence piled up in favor of the effectiveness of acupuncture, one wonders why there are still many people who are skeptical of the practice.